Jakarta

Dari Antrian Samsat hingga Kejahatan Siber, Wajah Baru Pelayanan Polri Mulai Terlihat

Oleh admin7/15/2026 03:35:00 PM


Transformasi Polri Presisi: Ketika Pelayanan yang Lebih Dekat Menumbuhkan Kepercayaan Publik

Jakarta, zonamerdeka.com – Bagi Agus (42), warga Cikarang, membayar pajak kendaraan pernah menjadi pekerjaan yang menyita waktu. Ia harus datang ke kantor Samsat induk, mengantri berjam-jam, bahkan mengorbankan waktu bekerja hanya untuk menunaikan kewajiban administrasi kendaraan.

Kini, pengalaman itu berubah.

"Kalau dulu harus ke kantor Samsat induk, antre panjang dan menghabiskan waktu kerja. Sekarang lebih mudah karena ada layanan yang lebih dekat," ujarnya.


Cerita Agus menggambarkan perubahan yang mulai dirasakan sebagian masyarakat seiring transformasi pelayanan publik yang dilakukan Polri melalui program Presisi. 


Kehadiran Samsat Keliling, Samsat Gendong, gerai pelayanan, hingga layanan di Mal Pelayanan Publik membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk mengurus administrasi kendaraan secara lebih cepat dan mudah.


Transformasi tersebut tidak berhenti pada penyediaan layanan yang semakin dekat. Di tengah meningkatnya kompleksitas kejahatan, mulai dari penipuan digital, kejahatan siber, hingga kejahatan lintas negara, Polri juga terus memperkuat kualitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, dan tata kelola organisasi agar mampu menjawab tantangan keamanan yang terus berkembang.


Hasil Survei Persepsi Masyarakat dan Evaluasi Kinerja Polri Triwulan II Tahun 2026 menunjukkan masyarakat memberikan penilaian positif terhadap kualitas pelayanan kepolisian.


 Kemudahan mengakses layanan, kualitas fasilitas, penyelesaian laporan pengaduan, perlindungan data pribadi, hingga profesionalisme petugas dinilai mengalami peningkatan. 


Layanan administrasi kepolisian juga masih menjadi layanan yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat.


Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menegaskan bahwa hasil survei tersebut menjadi bahan evaluasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.


"Setiap penilaian masyarakat menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kami. Polri berkomitmen menghadirkan pelayanan yang semakin profesional, humanis, mudah diakses, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat melalui peningkatan kualitas SDM, inovasi, serta transformasi pelayanan yang berkelanjutan," ujar Johnny.


Di sisi lain, transformasi juga diarahkan untuk memperkuat kemampuan Polri menghadapi pola kejahatan yang terus berubah. 


Kajian Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Polri menyebut tantangan kepolisian saat ini tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya kompleksitas tindak kriminal, tetapi juga kebutuhan memperkuat kompetensi personel, 

tata kelola organisasi, serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung pelayanan dan penegakan hukum.


Karena itu, konsep Presisi tidak hanya dimaknai sebagai peningkatan pelayanan, tetapi juga perubahan cara kerja kepolisian. Salah satu pilar utamanya adalah pemolisian prediktif, yaitu pendekatan yang mengutamakan analisis data,


 pemetaan kerawanan, dan deteksi dini agar potensi gangguan keamanan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi tindak pidana. Dalam dokumen Transformasi Menuju Polri yang PRESISI, 


Lemdiklat Polri menjelaskan bahwa pendekatan tersebut menjadi pondasi untuk membangun kepolisian yang lebih adaptif, modern, dan berbasis data.


Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan transformasi Polri Presisi berlandaskan prinsip prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Prinsip tersebut menjadi arah bagi seluruh jajaran agar mampu memberikan perlindungan, pengayoman, pelayanan, dan penegakan hukum secara profesional, cepat, serta adaptif terhadap perkembangan situasi.


Pendekatan yang sama juga diterapkan dalam pelayanan lalu lintas. Kakorlantas Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho mengingatkan jajarannya agar mengedepankan sisi kemanusiaan dalam melayani masyarakat.

"Polantas saat ini bukan menggunakan tilang, tapi menggunakan hati," tegasnya.


Perspektif serupa datang dari pengamat sosial Hizkia Darmayana. Menurutnya, kepercayaan publik tidak lahir dari slogan ataupun pencitraan, melainkan dari konsistensi pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat.


"Kepercayaan publik dibangun melalui kerja nyata. Dengan menjaga integritas, meningkatkan pelayanan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, Polri akan semakin memperkuat legitimasi di mata publik," ujarnya.


Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Penata Kehumasan Utama Polri Tk II Brigjen Pol. Dicky Sondani menyampaikan bahwa tema 


"Polri untuk Masyarakat" mencerminkan komitmen Polri untuk menjaga keamanan, meningkatkan pelayanan, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan kepada seluruh masyarakat.


Pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi bukan semata banyaknya perkara yang berhasil diungkap. Keberhasilan juga tercermin ketika masyarakat semakin mudah memperoleh pelayanan, semakin cepat mendapatkan perlindungan, dan semakin percaya bahwa negara hadir melalui institusi kepolisian. 


Dari loket pelayanan Samsat hingga strategi pemolisian berbasis data, transformasi Polri Presisi menunjukkan bahwa pelayanan yang semakin dekat kepada masyarakat merupakan pondasi utama dalam membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan. (Fandy)

Baca Juga: Jakarta