![]() |
| Militer AS meluncurkan Operasi Epic Fury dengan menargetkan pusat komando dan fasilitas rudal strategis di wilayah Iran. |
zonamerdeka.com - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) yang bersekutu dengan Israel melawan Iran kini memasuki fase eskalasi penuh yang mengancam stabilitas dunia.
Ketegangan ini memicu gejolak hebat pada harga energi dan emas global menyusul serangan udara besar-besaran yang dilancarkan kedua belah pihak.
Militer Amerika Serikat melaporkan telah menghantam lebih dari 1.250 target strategis di berbagai wilayah Iran hanya dalam kurun waktu 48 jam.
Serangan tersebut menyasar fasilitas krusial seperti pusat komando, lokasi rudal balistik, armada angkatan laut, hingga sistem pertahanan pesisir Iran.
Strategi Trump dan Operasi Epic Fury
Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa operasi militer yang diberi nama Operasi Epic Fury ini kemungkinan besar akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Meskipun awalnya diproyeksikan selesai dalam empat hingga lima minggu, Trump menegaskan kesiapan AS untuk bertahan jauh lebih lama jika diperlukan.
Trump menetapkan empat tujuan utama: menghancurkan kemampuan rudal, memusnahkan angkatan laut Iran, mencegah senjata nuklir, dan menghentikan dukungan Teheran pada kelompok bersenjata.
Selain serangan udara, Trump secara mengejutkan membuka opsi pengiriman pasukan darat ke Iran jika situasi lapangan mengharuskannya.
"Gelombang besar akan segera datang," ujar Trump memperingatkan adanya eskalasi yang jauh lebih dahsyat dalam waktu dekat.
Balasan Iran dan Penutupan Jalur Energi Dunia
Di pihak lawan, Iran tidak tinggal diam dengan mengklaim telah menyerang 500 target strategis milik Amerika Serikat dan Israel.
Serangan Iran yang menggunakan ratusan rudal dan drone dilaporkan menyasar kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu serta fasilitas keamanan di Tel Aviv.
Langkah yang paling mengguncang pasar dunia adalah pengumuman resmi dari Jenderal Iran mengenai penutupan total Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal.
Penutupan jalur pelayaran vital ini langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang dikhawatirkan dapat menyentuh angka US$200 per barel.
Dampak Kemanusiaan dan Krisis Energi
Laporan dari Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan sebanyak 555 warga sipil tewas di 131 kota akibat serangan gabungan AS dan Israel tersebut.
Sementara itu, harga gas alam di Eropa melonjak hingga 50 persen setelah Qatar menghentikan produksi LNG akibat ancaman keamanan di kawasan Teluk.
Di Dubai, bandara internasional mulai beroperasi secara terbatas setelah sempat lumpuh total selama tiga hari akibat serangan rudal yang melintas.
Sejumlah negara seperti Jerman mulai mengerahkan pesawat evakuasi untuk menjemput ribuan warga mereka yang terdampar di zona konflik Timur Tengah.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman bahwa kepentingan Amerika Serikat tidak akan lagi aman di belahan dunia mana pun pasca insiden ini.
Situasi di Timur Tengah kini berada pada titik didih tertinggi yang berpotensi mengubah peta geopolitik dan ekonomi global secara permanen. ***
Sumber: Berbagai Sumber
(ton)
