Notification

×

Iklan

Iklan

Ancaman Penutupan Selat Hormuz: Harga BBM Domestik dan Inflasi RI Terancam Meroket

04 March 2026 | 7:09 AM WIB | Last Updated 2026-03-04T00:09:53Z

 

Ilustrasi kapal tanker di Selat Hormuz yang kini terancam berhenti beroperasi akibat eskalasi perang Iran.

zonamerdeka.com - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas eskalasi perang melawan Amerika Serikat dan Israel menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi Indonesia.

Sebagai jalur pelayaran energi paling vital di dunia, penutupan selat ini diprediksi akan memicu guncangan hebat pada harga minyak mentah global dalam waktu singkat.

Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi distribusi sekitar 21 juta barel minyak per hari atau setara dengan seperlima konsumsi minyak bumi dunia setiap harinya.

Para analis ekonomi memperingatkan bahwa jika blokade ini berlangsung lama, harga minyak mentah dunia bisa melonjak tajam hingga menembus angka US$200 per barel.

Dampak Langsung pada Harga BBM

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia ini akan memberikan dampak langsung pada struktur harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Sebagai negara net importer minyak, Indonesia sangat bergantung pada harga pasar internasional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi energi domestik yang terus meningkat.

Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Dex Series diprediksi akan mengalami penyesuaian naik secara signifikan mengikuti tren harga minyak mentah global.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini dipastikan bakal memukul daya beli masyarakat kelas menengah yang selama ini menjadi konsumen utama produk tersebut.

Dilema Subsidi dan APBN 2026

Pemerintah kini dihadapkan pada dilema besar terkait nasib BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar yang menjadi tulang punggung mobilitas rakyat kecil.

Jika harga subsidi tidak dinaikkan, beban anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 dipastikan akan membengkak hingga ke titik yang mengkhawatirkan.

Kondisi ini memaksa pemerintah untuk melakukan kalkulasi ulang terhadap asumsi makro ekonomi agar defisit anggaran tidak melampaui batas yang ditetapkan undang-undang.

Presiden Prabowo Subianto sendiri telah mengumpulkan para tokoh bangsa untuk mendiskusikan langkah mitigasi atas potensi krisis energi yang sedang mengintai tanah air.

Ancaman Inflasi Pangan dan Logistik

Efek domino dari kenaikan harga energi ini akan menjalar dengan cepat ke sektor logistik dan distribusi barang kebutuhan pokok di seluruh Indonesia.

Kenaikan biaya transportasi darat yang menggunakan Solar akan memaksa para pedagang untuk menaikkan harga pangan seperti beras, minyak goreng, hingga telur di pasar.

Fenomena cost-push inflation ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan inflasi nasional yang bisa mencapai level dua digit jika tidak segera ditangani dengan tepat.

Selain pangan, tarif listrik untuk sektor industri juga berpotensi terkoreksi naik mengingat beberapa pembangkit listrik masih bergantung pada pasokan minyak dan gas.

Pelemahan Rupiah dan Suku Bunga

Krisis energi global ini juga memberikan tekanan besar terhadap nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS akibat membengkaknya biaya impor minyak mentah.

Pelemahan Rupiah akan membuat harga bahan baku industri yang diimpor menjadi lebih mahal, sehingga memicu kenaikan harga produk jadi di tangan konsumen.

Kondisi inflasi yang tinggi kemungkinan besar akan memaksa Bank Indonesia untuk mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan secara berkala.

Kebijakan ini diambil demi menjaga stabilitas moneter, meskipun di sisi lain akan menghambat penyaluran kredit perbankan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Strategi Ketahanan Energi Nasional

Pemerintah terus berupaya mencari sumber pasokan minyak alternatif di luar kawasan Teluk untuk mengamankan stok cadangan BBM nasional yang ada.

Diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi ke energi terbarukan kini menjadi agenda yang semakin mendesak untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak.

Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan penghematan energi dan bersiap menghadapi kemungkinan perubahan skema harga BBM dalam waktu dekat jika situasi memburuk.

Langkah koordinasi antara kementerian terkait terus diperkuat guna memastikan distribusi barang pokok tetap berjalan lancar meski biaya logistik mengalami kenaikan.

Kesadaran kolektif dalam menghadapi krisis ini menjadi kunci utama agar Indonesia bisa melewati badai ekonomi global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.***

(ton)