Kalender Jawa kuno ini sering digunakan masyarakat untuk menentukan berbagai aspek kehidupan.
Fokus utama hari tersebut adalah serangkaian pantangan yang sebaiknya dipatuhi oleh masyarakat Jawa.
Kepatuhan terhadap larangan ini dipercaya dapat menghindarkan dari berbagai kesialan dan musibah.
Tanggal 15 Februari 2026 dalam kalender Masehi bertepatan dengan weton Minggu Pon.
Weton ini memiliki perhitungan neptu yang cukup signifikan, yaitu dua belas.
Angka neptu ini didapatkan dari nilai hari Minggu (5) ditambah dengan nilai pasaran Pon (7).
Perhitungan neptu dua belas menempatkan Minggu Pon dalam kategori watak Lakuning Kembang.
Karakteristik ini menandakan pribadi yang berwibawa, penyendiri, dan memiliki sikap tegas.
Meskipun demikian, ada sisi sensitif dan tertutup yang perlu diwaspadai pada hari bersangkutan.
Energi yang dibawa oleh Minggu Pon membutuhkan penyesuaian khusus agar seimbang.
Pantangan utama yang harus dihindari adalah mengambil keputusan besar yang bersifat permanen.
Hal ini mencakup penandatanganan kontrak kerja sama yang bernilai tinggi.
Larangan serupa juga berlaku untuk memulai pembangunan proyek properti atau rumah baru.
Memulai bisnis atau usaha yang benar-benar baru juga sebaiknya ditunda ke hari lain.
Primbon menyarankan agar aktivitas tersebut dilakukan pada hari dengan neptu yang lebih kuat.
Tujuan penundaan ini adalah untuk memastikan fondasi yang diletakkan kokoh dan terhindar dari kegagalan.
Pantangan kedua yang sangat krusial adalah larangan bepergian jauh ke arah tertentu.
Setiap weton dan hari memiliki arah sial atau yang disebut sebagai *tibo sarang* atau *pancaroba*.
Arah tersebut diyakini menjadi titik kumpul energi negatif yang membawa kesialan perjalanan.
Apabila perjalanan jauh harus dilakukan, sebaiknya berhati-hati dan selalu waspada terhadap rintangan.
Disarankan untuk melakukan ritual sederhana seperti selamatan sebelum berangkat jika terpaksa.
Minggu Pon juga memiliki pantangan yang berkaitan erat dengan pengendalian emosi pribadi.
Mengingat weton ini cenderung sensitif, potensi konflik internal dan eksternal sangat tinggi.
Pemilik weton disarankan untuk menahan diri dari sifat mudah marah dan tersinggung.
Hindari perdebatan sengit, terutama dengan orang-orang yang lebih tua atau memiliki kedudukan lebih tinggi.
Konflik yang dimulai pada hari Minggu Pon cenderung sulit diselesaikan dan berlarut-larut.
Fokuslah pada pekerjaan rutin yang membutuhkan ketenangan dan sedikit interaksi sosial.
Larangan berikutnya adalah terkait dengan pelaksanaan hajat atau acara besar yang mengundang keramaian.
Acara pernikahan, tunangan, atau kenduri besar sebaiknya tidak dilaksanakan pada hari ini.
Energi hari Minggu Pon dianggap kurang mendukung untuk perayaan yang penuh suka cita.
Jika sudah terlanjur menjadwalkan, perlu dilakukan ruwatan atau doa khusus penolak bala.
Pantangan ini berlaku umum, tidak hanya bagi mereka yang lahir pada weton Minggu Pon.
Primbon juga memberikan peringatan terkait kegiatan memindahkan benda pusaka atau artefak berharga.
Aktivitas tersebut dikhawatirkan dapat membangkitkan energi yang tidak terduga dan sulit dikontrol.
Selanjutnya, penting untuk menghindari kegiatan memotong rambut atau memulai perawatan tubuh drastis.
Perubahan besar pada penampilan fisik pada hari ini dipercaya membawa dampak yang kurang baik.
Beberapa ajaran Primbon melarang keras memulai kegiatan bercocok tanam yang membutuhkan harapan panen besar.
Minggu Pon dianggap kurang subur secara spiritual untuk menanam benih kesuksesan jangka panjang.
Jam-jam tertentu pada hari Minggu Pon juga memiliki pantangan yang spesifik.
Biasanya, waktu menjelang matahari terbit dan terbenam adalah periode yang paling rawan.
Masyarakat dianjurkan untuk mengisi waktu tersebut dengan kegiatan ibadah atau meditasi tenang.
Menjaga kebersihan dan kesucian diri pada hari Minggu Pon adalah sebuah keharusan.
Pantangan membuang sampah sembarangan atau mengotori lingkungan juga perlu diperhatikan.
Perilaku buruk ini diyakini dapat mengundang datangnya energi negatif ke dalam rumah.
Secara keseluruhan, hari Minggu Pon menuntut sikap hati-hati, sabar, dan penuh pertimbangan.
Mengambil langkah konservatif dan menghindari risiko besar adalah kunci menjalani hari ini.
Kepatuhan terhadap pantangan ini adalah bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal leluhur.
Tujuannya adalah mencapai keseimbangan hidup yang harmonis antara manusia dan alam semesta.
Dengan memahami dan mematuhi larangan ini, diharapkan keberkahan akan senantiasa menyertai.
Pantau terus www.Zonamerdeka.com untuk mendapat info terbaru.
