Menjelang pagi saat seorang gadis yang biasa sapa dengan nama teodora mulai menjerang air untuk membuat segelas teh panas. Teodora, ialah adalah seorang gadis yang mana hidupnya selalu dengan berjuta mimpi di dalam sebuah rumah yang bertembok tinggi.
Teodora merupakan seorang gadis yang bertumbuh di dalam lingkup keluarga yang serba berkecukupan, bahkan juga bisa dibilang sangat kaya. Namun tetapi sayangnya Teodora tidak bisa dapat menopang tubuhnya sendiri tanpa menggunakan bantuan kursi roda, sehingga merasa diacuhkan bahkan pula disaat berada di istana yang mewah dan mega tersebut.
Kedua orang tua Teodora selalu dan selalu mengacuhkannya karena merasa tidak ada yang bisa diharapkan dari gadis berkursi roda tersebut ini. Sementara kakaknya mungkin saja malu mempunyai adik dengan kondisi seperti Teodora.
Setiap hari Theodora hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar dan esekali pun
mengarahkan kursi rodanya menuju arah taman. Gadis yang berusia 17 tahun tersebut sangat senang untuk menggambar di taman guna menghilangkan pikiran buruknya yang menyesali keadaannya.
Suatu pagi Teodora jatuh dari kursi rodanya, namun tidak ada seorangpun di dalam rumah tersebut mendekat untuk menolongnya. Rasa kecewanya terhadap hal tersebut membuat Dara memiliki kekuatan untuk menggerakan kursi rodanya ke arah taman kompleks, berniat menenangkan diri.
Saat sedang terisak di taman, tiba-tiba Teodorara dihampiri oleh seorang gadis seusianya dengan kondisi yang sama. Gadis tersebut mengulurkan tangan untuk Teodora dan mulai menyebutkan namanya, yaitu Hana. mereka berdua mudah sekali akrab, mungkin karena keduanya saling mengerti kondisi masing-masing.
Tiba-tiba Hana Berkata, “ Teodora, ingatlah bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang terlahir sia-sia. Mungkin kita tidak bisa berdiri tegak layaknya manusia lain. Tetapi, kita juga masih punya hak untuk merasakan bahagia. Cobalah untuk menerima dirimu sendiri, Teodora.” lalu, akhirnya gadis itu berpamitan pada Teodora.
Semenjak pertemuannya di taman dengan Hana, Teodora mulai merenungi kata-kata yang diucapkan oleh gadis tersebut. Teodora berpikir bagaimana ia bisa seutuhnya menerima dirinya ketika orang di dekatnya tidak mendukungnya sama sekali.
Teodora mencoba mencerna perkataan dari Hana secara perlahan, meskipun seringkali ia menangis ketika teringat kenyataan bahwa ia hanyalah seorang gadis yang diacuhkan. Hal yang dipikirkan oleh Teodora adalah bagaimana ia bisa mewujudkan mimpinya dengan kondisi tersebut.
Mimpi Teodora menjadi seorang pelukis yang karyanya bisa dipajang di dalam pameran besar. Hal yang dilakukan untuk memulainya adalah rajin membuat lukisan. Kesibukan tersebut juga dilakukan Teodora untuk tidak memikirkan mengenai dirinya yang selalu diacuhkan dan mulai memahami perkataan Hana.
Perlahan mimpi sang Teodora mulai terwujud saat diam-diam ia sering memposting lukisannya melalui media sosial. Hingga suatu hari ada seseorang datang ke rumah Teodora untuk menemui gadis itu guna mengajaknya untuk bergabung di dalam sebuah pameran lukisan.
Kedua orang tua Teodora terperangah mendengar ucapan pria tersebut, sebab tidak menyangka bahwa Teodora si gadis kursi roda bisa menghasilkan karya lukisan yang indah. Teodora hanya tersenyum melihat respon kedua orang tuanya dan memilih menerima tawaran pameran tersebut.
Berbagai lukisan indah dipajang dalam pameran yang diberi tema Mimpi Sang Teodora. Orang tua Teodora menghadiri pameran tersebut dan merasa terharu atas pencapaian putri yang selama ini diacuhkannya. Sementara Teodora merasa lega bisa menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkan apa yang dimiliki.
Penulis : Amatus Rahakbauw.