Ragam

Jejak yang Menghidupi Merawat Pangan, Merawat Masa Depan

Oleh admin7/11/2026 09:47:00 AM


Oleh: Fandi Ahmad Syah

BAB 1

Sepiring Nasi yang Tampak Biasa

Ada kebiasaan yang hampir dimiliki setiap anak ketika pulang ke rumah. Selesai bermain  kelereng Andi berlari menuju meja makan. Begitu melewati pintu, aroma masakan lebih dahulu menyambutnya. Di meja makan, sepiring nasi masih mengepulkan uap hangat. Seekor ikan goreng dengan sambal gurih tersaji di samping sayur bening hangat yang baru saja diangkat dari kompor. Sendok dan piring putih beradu pelan ketika ibunya menata makan malam.

                sepiring nasi sayur, ikan                    

"Makan dulu." ujar Ibu

Kalimat itu terdengar sederhana. Andi lalu duduk tanpa banyak bertanya. Tangannya langsung mengambil sendok seperti sudah terbiasa. Sendok pertama disuapkan ke mulut. Setelah itu semuanya berlangsung cepat. Seperti rutinitas yang sudah biasa. Bagi Andi, nasi memang selalu ada. Ikan memang selalu tersedia.Sayur memang selalu hadir di meja. Tidak pernah Andi berfikir dan terlintas di kepalanya pertanyaan, dari mana semua itu datang sebelum berada di hadapannya.

Yang ia rasakan hanyalah hangatnya makanan setelah seharian bermain kelereng. Senyum ibunya yang hangat membuat rasa lelah seolah hilang begitu saja. Di banyak rumah, pemandangan seperti ini sudah terbiasa dan sedang berlangsung pada saat yang sama. Anak-anak pulang. Orang tua menyiapkan makanan. Sendok dan piring tertata rapih. Percakapan kecil memenuhi ruang makan. Semua tampaknya begitu biasa. biasa hingga seringkali luput untuk disyukuri. Padahal, jauh ketika Andi menyuapkan nasi pertamanya, perjalanan panjang makanan itu baru saja akan berakhir.

Namun, membangun ekosistem pangan tidak cukup hanya memperbaiki rantai distribusi atau meningkatkan hasil panen. Ada satu mata rantai lain yang tidak kalah penting, yaitu manusia yang akan mengelolanya di masa depan.

Di banyak daerah, sawah masih terbentang luas. Akan tetapi, semakin sedikit anak muda yang membayangkan dirinya menjadi petani. Sebagian menganggap pertanian sebagai pekerjaan yang berat, kotor, dan tidak menjanjikan. Padahal, di balik sektor inilah kebutuhan paling mendasar setiap manusia dipenuhi.

Rachmat Gobel menilai cara pandang itu perlu diubah. Generasi muda harus melihat pertanian sebagai sektor yang memiliki masa depan, bukan sekadar pekerjaan yang diwariskan turun-temurun.

Gagasan itu menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya tentang lahan yang tetap produktif, tetapi juga tentang hadirnya generasi baru yang bersedia mengolahnya. Ketika pertanian didukung teknologi, inovasi, akses permodalan, dan pasar yang sehat, profesi petani tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir. Ia menjadi profesi yang mampu menciptakan nilai, menggerakkan ekonomi desa, sekaligus menjaga keberlanjutan pangan bangsa.

Sebab pada akhirnya, sepiring nasi yang kita nikmati hari ini juga bergantung pada siapa yang bersedia menanam benih untuk hari esok.

Mungkin karena itulah, membangun ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya soal memastikan panen hari ini berhasil. Yang jauh lebih penting adalah memastikan selalu ada tangan-tangan baru yang bersedia melanjutkan pekerjaan itu esok hari.

Sebab sebuah ekosistem tidak hanya ditopang oleh tanah yang subur, teknologi yang maju, atau pasar yang sehat. Ia juga ditopang oleh keberlanjutan manusia yang merawatnya. Ketika satu generasi selesai menjalankan tugasnya, generasi berikutnya telah siap melangkah. Begitulah kehidupan menjaga dirinya sendiri.


Pagi di Gobel

Pagi baru saja merekah. Cahaya matahari perlahan menyapu halaman kantor Gobel. Satu per satu karyawan datang, saling menyapa, lalu melangkah menuju ruang kerja masing-masing. Sebagian membawa secangkir kopi, sebagian lain menenteng map berisi pekerjaan yang akan diselesaikan hari itu.

Ada satu ritual yang tak pernah luput dilakukan setiap pagi, yaitu apel pagi, Dari luar, semuanya tampak seperti awal hari di banyak tempat kerja lainnya. Tenang, tertib, dan nyaris tanpa sesuatu yang mencuri perhatian.



                Ruang kerja PT Gobel

Namun, dibalik rutinitas itu, hidup sebuah cara pandang yang telah dijaga lintas generasi. Sebuah keyakinan bahwa keberhasilan tidak pernah dibangun oleh satu orang. Ia lahir dari banyak tangan yang saling menyambung pekerjaan, pengalaman, dan tanggung jawab.

Cara pandang itu berawal dari sesuatu yang akrab bagi masyarakat Indonesia: pohon pisang, di halaman rumah-rumah kampung, pohon pisang tumbuh tanpa banyak perawatan. Ia tidak menjulang seperti jati. Harganya pun tidak bernilai tinggi. Setelah berbuah, batang induknya perlahan akan rebah. Namun sebelum itu terjadi, tunas-tunas baru telah lebih dahulu muncul dari dalam tanah.

Kehidupan tidak menunggu akhir untuk memulai awal yang baru. Ia telah menyiapkan penerusnya. Bagi Thayeb Mohammad Gobel, pohon pisang bukan sekadar tanaman. Ia adalah pelajaran tentang cara kehidupan bekerja. 

Hampir setiap bagiannya memberi manfaat. Daunnya menjadi pembungkus makanan. Batangnya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Buahnya menjadi sumber pangan. Bahkan ketika batangnya selesai menjalankan tugas, kehidupan tidak ikut berhenti karena tunas baru telah siap melanjutkan.

Dari pengamatan sederhana terhadap alam itulah lahir Banana Tree Philosophy, filosofi yang kemudian menjadi salah satu fondasi Gobel Group.

Di dalamnya terkandung keyakinan bahwa keberhasilan bukan semata-mata diukur dari besarnya keuntungan atau lamanya sebuah perusahaan berdiri. Keberhasilan juga diukur dari seberapa besar manfaat yang diberikan, seberapa baik nilai-nilai diwariskan, dan seberapa siap generasi berikutnya melanjutkan perjalanan.

Cara pandang itu tidak lahir dari ruang rapat. Ia lahir dari kesediaan membaca pelajaran yang setiap hari disampaikan alam.

Penulis Soil, Soul, Society, Satish Kumar, pernah mengingatkan bahwa keberlanjutan lahir ketika manusia belajar dari cara alam bekerja—tidak menghasilkan limbah dan selalu memperbarui kehidupan. Gagasan itu seolah menemukan pantulannya dalam filosofi pohon pisang yang dipegang keluarga Gobel.

Nilai yang sama juga tampak dalam pandangan Rachmat Gobel mengenai ketahanan pangan. Baginya, menjaga pangan bukan sekadar meningkatkan hasil panen, melainkan memastikan seluruh ekosistemnya tetap hidup. Petani membutuhkan kepastian. Nelayan memerlukan perlindungan. Industri harus mampu memberi nilai tambah. Sementara generasi muda perlu melihat bahwa pertanian dan perikanan bukan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan masa depan yang layak dibangun.

Sebab sebuah bangsa tidak akan kehilangan pangan ketika ia mampu menjaga manusia yang merawatnya.

                     Rachmat Gobel

Sebagaimana pohon pisang tidak membiarkan kehidupan berhenti pada satu batang, sebuah bangsa pun hanya akan bertahan apabila setiap generasi bersedia menyiapkan generasi berikutnya.

Barangkali, pelajaran terbesar tentang keberlanjutan memang tidak selalu lahir dari sesuatu yang megah. Kadang, ia tumbuh diam-diam di halaman rumah, melalui sebatang pohon pisang yang selama ini kita anggap biasa.


Menjaga Api Tetap Menyala

Ada sebuah pekerjaan yang sering kali tidak terlihat, tetapi menentukan apakah sebuah perjalanan akan terus berlanjut.


Menjadi penerus.

Pekerjaan itu tidak semudah menerima warisan. Ia menuntut kemampuan memahami nilai-nilai yang dibangun generasi sebelumnya, lalu menerjemahkannya menjadi jawaban atas tantangan zaman yang terus berubah.

Itulah estafet yang dijalani Rachmat Gobel.

Ia mewarisi filosofi yang ditanamkan Thayeb Mohammad Gobel bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menciptakan keuntungan, melainkan menghadirkan manfaat yang terus hidup di tengah masyarakat. Nilai itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai gagasannya mengenai pembangunan, industri, dan ketahanan pangan.

Pandangan tersebut yang berulang kali menekankan bahwa pangan merupakan fondasi kehidupan sebuah bangsa. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur semata dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan negara memastikan setiap mata rantai pangan tetap hidup dan berkelanjutan.

"Ketahanan pangan bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak, tetapi memastikan petani memiliki kepastian berusaha, nelayan memperoleh perlindungan, industri memberi nilai tambah, dan generasi muda melihat sektor pangan sebagai masa depan yang menjanjikan," ujar Rachmat Gobel dalam berbagai kesempatan.

Sementara itu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menilai regenerasi petani menjadi salah satu pekerjaan besar Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan, bangsa ini membutuhkan lebih banyak anak muda yang bersedia turun ke sektor pertanian dengan membawa inovasi, teknologi, dan semangat kewirausahaan.

"Kita tidak hanya membutuhkan hasil panen yang tinggi, tetapi juga generasi baru yang siap menjadi pelaku utama pertanian Indonesia," tegas Amran.

Senada dengan itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengingatkan bahwa ketahanan pangan nasional juga bertumpu pada laut. Menurutnya, kesejahteraan nelayan, keberlanjutan sumberdaya perikanan, dan pengelolaan laut yang bertanggung jawab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Di kalangan akademisi, Guru Besar IPB University Dwi Andreas Santosa menilai tantangan terbesar sektor pangan bukan semata produktivitas lahan, melainkan keberlanjutan sumber daya manusianya. Jika regenerasi petani gagal dilakukan, Indonesia akan menghadapi persoalan yang jauh lebih besar dibanding sekadar penurunan produksi.


Jejak yang Terus Hidup

Saat tulisan ini diselesaikan, Indonesia menerima kabar duka atas wafatnya Rachmat Gobel pada 10 Juli 2026. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan kehilangan bagi keluarga dan dunia usaha, tetapi juga mengingatkan bahwa gagasan tentang industri yang berpihak kepada manusia, regenerasi, dan pemberdayaan masyarakat akan terus menjadi warisan yang relevan. Pohon-pohon yang ditanam, para pelaku usaha yang diberdayakan, serta nilai-nilai yang diwariskan menjadi bukti bahwa seorang pemimpin dapat tetap hadir melalui jejak yang ditinggalkannya. Di situlah warisan sejati Rachmat Gobel: bukan sekadar perusahaan yang dibangun, melainkan harapan yang terus bertumbuh dari generasi ke generasi. ***




Baca Juga: Ragam