Jakarta

Rupiah, Dolar, dan Upaya Bertahan yang Tak Selalu Terlihat

Oleh admin6/13/2026 03:02:00 pm

 


Jakarta, zonamerdeka.com -Ketika nilai tukar rupiah bergerak tergerus  terhadap dolar Amerika Serikat, yang pertama tama kali muncul biasanya adalah angka-angka di layar kaca televisi.

Yang terlewat begitu saja


Namun bagi sebagian pelaku usaha, perubahan kurs tidak berhenti sebagai statistik ekonomi.


Ada biaya bahan baku yang harus dihitung ulang. Ada rencana ekspansi yang ditunda.


 Ada keputusan-keputusan kecil yang harus diambil lebih hati-hati dibandingkan sebelumnya.


Situasi bagi pelaku usaha yang pernah melewati berbagai fase ekonomi. 


Mereka memahami bahwa kondisi pasar bisa berubah kapan saja. 


Karena itu, yang sering menjadi pembeda bukan siapa yang tumbuh paling cepat, melainkan siapa yang paling siap menghadapi perubahan.


Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi yang digelar Maybank Indonesia mengenai pengelolaan kekayaan dan ketahanan finansial di tengah ketidakpastian ekonomi global.


Alih-alih berbicara mengenai produk, para pembicara justru banyak membahas perjalanan hidup nasabah...


Ada kisah seorang pengusaha yang memulai usaha dari garasi rumah lebih dari dua dekade lalu. 


Ada pula cerita tentang nasabah yang sejak awal memilih mengelola asetnya secara bertahap karena tidak ingin seluruh dananya bergantung pada satu usaha.


"Kami melihat perjalanan nasabah itu di kehidupannya seperti apa," kata Johan Kesuma Harsa, Head of Wealth Management Distribution & Specialists Maybank Indonesia.


Menurut Johan, kebutuhan setiap orang berubah mengikuti fase kehidupan yang dijalani.


 Saat membangun usaha, fokusnya mungkin pada pengembangan bisnis.


 Ketika anak mulai beranjak dewasa, prioritas bergeser ke pendidikan. 


Pada umur 50 tahun keatas  perhatian mulai tertuju pada perlindungan aset dan persiapan masa pensiun.


Karena itu, pengelolaan keuangan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua orang.


Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, pengelolaan keuangan menjadi salah satu strategi yang banyak dipilih.


 Sebagian menyimpan aset  cadangan untuk biaya tak terduga, sebagian lagi membagi dana dalam mata uang yang berbeda untuk mengurangi risiko.



Ketika pasar bergejolak

Pendekatan tersebut sejalan dengan filosofi yang  mengantisipasi, bukan bereaksi.


Prinsip itu ternyata tidak hanya diterapkan kepada nasabah, tetapi juga dalam pengelolaan bank.


Direktur Community Financial Services (CFS) Maybank Indonesia, Bianto Surodjo, mengatakan ketahanan sebuah bank tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau agresivitas ekspansi bisnis.


Menurut dia, terdapat empat faktor utama yang menjadi fondasi kesehatan bank, yakni kecukupan modal, likuiditas, kualitas aset, serta rekam jejak pemilik dan pengelolanya.


"Di tahun 1998, itu yang menyelamatkan bank," ujar Bianto.


Pengalaman krisis ekonomi menjadi alasan mengapa sebagian institusi keuangan memilih tetap berhati-hati ketika peluang pertumbuhan terbuka lebar.


Data Maybank Indonesia pada 2025 menunjukkan rasio kecukupan modal (CAR) berada di level 27,31 persen. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross membaik menjadi 2,17 persen, sementara rasio likuiditas jangka pendek (LCR) mencapai 176,20 persen.


Angka-angka tersebut mungkin lebih akrab bagi kalangan perbankan. 


Namun bagi masyarakat, maknanya sederhana: kemampuan sebuah lembaga keuangan untuk tetap menjalankan fungsinya ketika kondisi ekonomi sedang tidak mudah.


Di luar persoalan kurs, suku bunga, atau pergerakan pasar, ada pelajaran yang terus berulang dari waktu ke waktu.


Ketahanan finansial tidak dibangun dalam satu hari.



Ia tumbuh dari kebiasaan mengelola keuangan dengan disiplin, mengambil keputusan secara terukur, dan tidak terburu-buru ketika kondisi sedang baik.


Pelajaran itu berlaku bagi bank, pelaku usaha, maupun keluarga yang sedang menyusun rencana masa depannya.


Sebab pada akhirnya, tidak ada yang bisa memastikan bagaimana kondisi ekonomi beberapa tahun ke depan. 


Tetapi setiap orang bisa mempersiapkan diri agar lebih siap ketika perubahan datang.


Pada akhirnya pertumbuhan ekonomi dapat dikelola melalui kepercayaan diri, ketahanan produk dalam negeri, UMKM, dan kepercayaan akan kembalinya rupiah menjadi nilai tukar yang kuat,


Indonesia tetap memiliki alasan yang kuat. 



Pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditopang oleh stabilitas sektor keuangan, tetapi juga oleh kepercayaan diri masyarakat, daya tahan produk dalam negeri, serta peran UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional.


Karena itu, menjaga ketahanan usaha dan memperkuat fondasi ekonomi domestik menjadi bagian penting dari upaya menjaga nilai rupiah tetap kuat.


 Ketika produktivitas meningkat, konsumsi terjaga, dan sektor usaha terus bergerak, kepercayaan terhadap ekonomi nasional pun akan tumbuh.


Pada akhirnya, bukan hanya soal bagaimana rupiah bergerak terhadap dolar. 


Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat, pelaku usaha, dan berbagai institusi ekonomi terus membangun ketahanan agar mampu menghadapi setiap perubahan. 


Sebab dari ketahanan itulah lahir optimisme bahwa rupiah akan kembali menunjukkan kekuatannya seiring kokohnya fondasi ekonomi Indonesia.


Ujar Head Global Market Maybank Indonesia, I Made Budhi P. Artha. (Fandy)

Baca Juga: Jakarta