Pakta pengendalian senjata nuklir terakhir antara dua kekuatan atom terbesar dunia ini kini telah usai, menghapus seluruh pembatasan kepemilikan senjata nuklir untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa berakhirnya New START adalah hal yang sangat disesalkan.
Ia menekankan bahwa perjanjian tersebut memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas strategis global. “Perjanjian ini sangat penting bagi stabilitas strategis global. Berakhirnya New START menimbulkan kekhawatiran luas terhadap sistem pengendalian senjata nuklir internasional dan tatanan nuklir dunia,” ujar Lin, mendesak Washington untuk segera bertindak.
Beijing secara terbuka mendorong AS agar menanggapi usulan Rusia untuk memperpanjang pembatasan senjata nuklir selama satu tahun. Hingga kini, Washington belum memberikan respons resmi atas proposal tersebut. “China berharap AS akan secara aktif merespons proposal Rusia, mencari solusi yang bertanggung jawab, serta melanjutkan dialog stabilitas strategis dengan Rusia sesegera mungkin,” tegas Lin.
Dari Moskow, Kremlin melalui Juru Bicaranya, Dmitry Peskov, menyatakan penyesalan serupa atas situasi tersebut, namun menegaskan bahwa Federasi Rusia akan mempertahankan pendekatan yang bertanggung jawab dan menyeluruh terhadap stabilitas senjata nuklir, berpedoman pada kepentingan nasionalnya.
Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan menyebut bahwa dalam kondisi saat ini, para pihak tidak lagi terikat oleh kewajiban atau deklarasi simetris apa pun dalam konteks New START, yang pada dasarnya memberikan kebebasan bagi AS dan Rusia untuk menentukan langkah selanjutnya.
Kedua negara tersebut diperkirakan menguasai sekitar 90% senjata nuklir dunia.
Meski China menolak bergabung dalam pakta pengendalian senjata nuklir dengan alasan jumlah persenjataannya yang lebih kecil, Beijing mempercepat pengembangan kemampuan nuklirnya.
Lin Jian menambahkan, China tetap berpegang pada strategi nuklir defensif dan kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, serta tidak berniat terlibat dalam perlombaan senjata.
Namun, ia menegaskan bahwa China tidak akan ikut serta dalam negosiasi pelucutan senjata nuklir untuk saat ini. ***
