Jakarta, zonamerdeka.com - Usia sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar keuntungan yang diraih atau seberapa luas jaringan bisnis yang dimiliki. Tantangan yang jauh lebih sulit adalah memastikan perusahaan tetap hidup ketika pendirinya tidak lagi memegang kendali.
Di Indonesia, banyak perusahaan tumbuh pesat pada generasi pertama, tetapi tidak semuanya mampu bertahan ketika kepemimpinan berganti.
Regenerasi menjadi salah satu ujian terbesar dunia usaha. Pergantian pemimpin bukan sekadar perpindahan jabatan, melainkan proses mewariskan nilai, budaya kerja, pengalaman, hingga cara mengambil keputusan. Tanpa proses itu, perusahaan mudah kehilangan arah, meski memiliki modal dan pasar yang kuat.
Sejumlah kajian tentang perusahaan keluarga menunjukkan bahwa fase suksesi merupakan periode paling krusial dalam keberlangsungan bisnis. Banyak perusahaan gagal bukan karena kalah bersaing di pasar, melainkan karena tidak berhasil mentransfer kepemimpinan, pengetahuan, dan nilai organisasi kepada generasi berikutnya. Regenerasi yang terlambat atau tidak terencana sering kali memicu konflik internal, hilangnya arah bisnis, hingga menurunnya daya saing perusahaan.
Hasil PwC Global Family Business Survey 2025 menunjukkan bahwa perusahaan keluarga di berbagai negara sedang menghadapi titik balik. Selain tekanan geopolitik dan perubahan teknologi, keberhasilan menyiapkan generasi penerus menjadi salah satu faktor penting yang membedakan perusahaan yang mampu bertahan dengan yang tertinggal. Laporan itu juga menekankan pentingnya keselarasan nilai antara generasi pendiri dan generasi penerus dalam menghadapi perubahan bisnis.
Dalam PwC Global Family Business Survey 2025, regenerasi kepemimpinan disebut sebagai salah satu kunci keberlanjutan perusahaan keluarga. Laporan tersebut menilai bahwa perusahaan yang mampu menyelaraskan nilai dan prioritas antara generasi lama dan generasi baru cenderung lebih siap menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan pasar.
Tantangan tersebut semakin besar di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara perusahaan beroperasi, sementara generasi baru dituntut memiliki kemampuan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, perusahaan tidak cukup hanya berinvestasi pada teknologi. Mereka juga harus berinvestasi pada manusia.
Pakar manajemen menilai teknologi memang mampu meningkatkan efisiensi, tetapi tidak dapat menggantikan kepemimpinan, kemampuan membangun kepercayaan, maupun budaya organisasi. Di tengah disrupsi digital, kualitas sumber daya manusia justru menjadi pembeda utama antara perusahaan yang mampu bertahan dan yang tertinggal.
Di tengah tantangan itu, Gobel Group memilih membangun keberlanjutan perusahaan melalui sebuah filosofi yang sederhana: pohon pisang. Falsafah yang diwariskan pendirinya, Thayeb Mohammad Gobel, mengajarkan bahwa sebelum pohon induk menyelesaikan siklus hidupnya, tunas baru telah tumbuh untuk melanjutkan kehidupan. Bagi Thayeb, prinsip tersebut bukan sekadar kearifan lokal, melainkan cara membangun organisasi yang mampu bertahan lintas generasi.
Pandangan itu lahir ketika Indonesia baru mulai membangun industrinya pada pertengahan 1950-an. Saat itu, membangun pabrik dianggap sebagai simbol kemajuan. Namun, Thayeb melihat bahwa industri tidak akan berkembang tanpa manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Karena itu, membangun sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari membangun perusahaan.
Selama tujuh dekade, Gobel Group berkembang dari industri elektronik menjadi kelompok usaha yang bergerak di berbagai sektor. Perjalanan itu melewati berbagai perubahan, mulai dari krisis ekonomi, persaingan global, hingga transformasi digital. Di balik perubahan tersebut, satu prinsip tetap dipertahankan, yaitu menyiapkan generasi penerus jauh sebelum estafet kepemimpinan berpindah.
Prinsip itu terasa semakin relevan ketika dunia memasuki era AI. Berbagai pekerjaan kini dapat dilakukan lebih cepat oleh mesin, tetapi kemampuan untuk memimpin, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan tetap membutuhkan manusia. Teknologi dapat mempercepat proses, tetapi tidak dapat menggantikan nilai yang dibangun melalui pengalaman dan pembelajaran.
Karena itu, regenerasi tidak cukup dimaknai sebagai pergantian nama di kursi direksi. Regenerasi adalah proses panjang memindahkan pengetahuan, membangun budaya organisasi, dan memberi ruang kepada generasi baru untuk tumbuh tanpa memutus nilai yang telah dibangun sebelumnya. Perusahaan yang mampu bertahan biasanya bukan yang paling cepat mengikuti tren, melainkan yang berhasil menjaga kesinambungan antara pengalaman generasi lama dan gagasan generasi baru.
Pelajaran tersebut tidak hanya penting bagi Gobel Group. Di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis, banyak perusahaan Indonesia menghadapi tantangan yang sama: bagaimana bertahan ketika perubahan datang lebih cepat daripada pergantian generasi. Jawabannya mungkin tidak selalu sama, tetapi satu hal menjadi jelas: umur panjang sebuah perusahaan tidak lahir dari keberuntungan semata. Ia dibangun melalui proses regenerasi yang direncanakan sejak awal.
Memasuki usia 70 tahun, perjalanan Gobel Group menunjukkan bahwa keberlanjutan bisnis tidak hanya ditentukan oleh produk atau teknologi yang dimiliki. Yang lebih menentukan adalah kemampuan menjaga nilai, menyiapkan manusia, dan memastikan setiap generasi mampu melahirkan tunas-tunas baru. Sebab, seperti pohon pisang yang menginspirasi Thayeb Mohammad Gobel, masa depan tidak diwariskan dengan kata-kata, melainkan dipersiapkan melalui tindakan yang dimulai jauh sebelum pergantian generasi terjadi. (Fandy)