Fakfak

Kemenangan di Taman Getsemani

Oleh adminSunday, October 02, 2022

 


“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi  (Lukas 22:42). 


Ada dua pertarungan dalam perjuangan hidup Yesus dengan paling jelas menyoroti penderitaan pengorbanan-Nya. 






Yakni konfrontasi di padang gurun pada awal pelayanan-Nya dan pertarungan di akhir perjalanan-Nya. Kemenangan yang diperoleh di padang gurun adalah penting dalam pertarungan itu Lusifer menegaskan dalam pikirannya kesulitan besar yang ia akan  miliki untuk menghalangi Mesias dalam misi-Nya. 


Hal ini juga menegaskan  dalam Yesus intensitas keterlibatan yang menyusul kemudian pertarungan di padang gurun itu penting, tetapi Getsemani dalam beberapa hal bahkan lebih  menentukan di sinilah kemenangan-Nya dimeteraikan.


Setan gagal menghancurkan Dia pada saat kelahiran-Nya,gagal menipuNya di padang gurun, atau mencegah atau menjatuhkan Dia pada setiap tahap  pelayanan-Nya.


Adalah karena keputusaannya yang mutlaklah ia menyerang Dia di Getsemani. Segala yang gagal dia capai dalam seluruh pelayanan Juru  selamat, ia perjuangkan sekarang untuk mencapainya di jam-jam terakhir kehidupan-Nya; ia akan menghancurkan segalanya pada waktu yang terakhir.


Semua kemenangan Kristus sebelumnya akan dihapuskan, dan Golgota merupakan  penipuan, jika di Getsemani, Setan dapat membuat Dia menyerah pada keinginan untuk melarikan diri dari penderitaan, salib yang memalukan dan  meninggalkan misi kasih karunia-Nya. 


Di Getsemanilah Yesus menjadi penanggung dosa kita; beban setiap dosa yang pernah dilakukan ditimpakan kepada-Nya secara harfiah yang menghancurkan hidup-Nya.


Begitu parah rasa sakit itu sehingga dia hampir mati di taman  itu jika saja malaikat Allah tidak datang untuk menguatkan Dia,mengatakan kepada-Nya intisarinya, “Bertahan Yesus, Engkau hampir tiba di sana misi Mu  hampir selesai, Engkau hampir tiba di rumah.“ 


Keteguhan kesetiaan Adam Kedua di bawah tekanan di Getsemani sangat berbeda dengan kesetiaan Adam pertama yang goyah di Eden. Kondisi Eden dan Getsemani sangat berlawananan hal itu bagaikan kutub utara dan Selatan dan demikian juga tanggapan dari Adam yang mendiaminya.


Adam pertama makan di Firdaus dan kehilangan rumah kebahagiaannya; Adam mi num cawan pahit penderitaan dan mengambil alih kembali Firdaus kita yang hilang; Adam pertama meragukan pemeliharaan Sang Pencipta dan menyerah  kepada pencobaan; Adam Kedua tidak bisa melihat melampaui kuburan,namun  percaya kepada kasih Bapa-Nya, dan dengan tindakan ini, dengan Kemuliaan  Dia menjadi, Adam kita yang rela, menakjubkan, penuh berkat Adam yang lebih 

baik.



Penulis   :    Pontius Pilatus . Rahakbauw .

Baca Juga: Fakfak